May 17, 2021

Polisi Keluarkan Tembakan menuju Udara Tiga Orang Terluka Myanmar Memanas

Kondisi Myanmar kembali memanas di tengah gelombang aksi demonstrasi warga menentang kudeta militer menggulingkan pemerintahan yang sah dari tangan Aung San Suu Kyi, Selasa (9/2/2021). Bentrokan terjadi antara polisi dan demonstran di seluruh Myanmar. Polisi menembakkan tembakan ke udara dan menggunakan meriam air serta peluru karet pada Selasa (9/2/2021), ketika demonstran di seluruh Myanmar menentang larangan pertemuan besar untuk menentang kudeta militer yang membawa kemunduran terhadap demokrasi.

“Setidaknya tiga orang terluka akibat peluru karet di ibu kota Naypyitaw,” kata seorang dokter seperti dilansir Reuters, Selasa (9/2/2021). Kudeta 1 Februari lalu dan penahanan pemimpin sipil terpilih Aung San Suu Kyi telah membawa gelombang demonstrasi terbesar lebih dari satu dekade di negara tersebut. Gerakan pembangkangan sipil terus berkembang dan berdampak pada rumah sakit, sekolah, dan kantor pemerintah, karena para karyawannya bergabung di dalamnya.

Saksi mata mengatakan polisi menembakkan senjata ke udara di Naypyitaw karena kerumunan demonstran menolak untuk membubarkan diri pada hari keempat aksi protes berturut turut. Seorang saksi mengatakan kepada Reuters, para demonstran melarikan diri saat senjata ditembakkan ke udara. Tak hanya itu, dilaporkan juga polisi menembakkan peluru karet.

Seorang dokter mengatakan tiga dari empat orang yang terluka dibawa ke rumah sakitnya telah disambar peluru karet. “Polisi sebelumnya menembakkan meriam air ke arah para demonstran, yang balas dengan melemparkan proyektil,” kata saksi itu. Video dari kota Bago, timur laut pusat komersial Yangon, menunjukkan polisi menghadapi kerumunan besar dan membubarkan dmereka dengan meriam air.

Polisi menangkap setidaknya 27 demonstran di kota terbesar kedua Mandalay, termasuk seorang jurnalis, kata organisasi media domestik. Kerusuhan telah menghidupkan kembali kenangan hampir setengah abad pemerintahan militer yang memulai proses penarikan diri dari politik sipil pada tahun 2011, meskipun tidak pernah menyerahkan kendali keseluruhannya atas pemerintahan sipil Suu Kyi setelah memenangkan pemilu 2015. "Kami akan terus berjuang," kata aktivis pemuda Maung Saungkha dalam sebuah pernyataannya.

Ia pun menyerukan pembebasan tahanan politik dan berakhirnya "kediktatoran" militer. Para aktivis juga berjuang penghapusan konstitusi tahun 2008 yang disusun di bawah pengawasan militer yang memberi para jenderal hak veto di parlemen dan mengendalikan beberapa kementerian, dan untuk sistem federal di Myanmar yang beragam secara etnis. Generasi aktivis yang lebih tua yang berhadapan dengan militer dalam protes berdarah 1988 lalu menyerukan aksi mogok para pekerja pemerintah selama tiga minggu.

Gerakan pembangkangan sipil, yang dipimpin oleh pekerja rumah sakit, telah mengakibatkan terjun bebasnya angka pengujian virus corona di Myanmar. Myanmar telah menjadi salah satu negara dengan wabah virus corona terburuk di Asia Tenggara dengan 31.177 kasus kematian, dari lebih dari 141.000 kasus.(Reuters/AP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *